Wednesday, January 20, 2010

Stroke

Stroke merupakan suatu kejadian di mana aliran darah ke otak terhenti karena adanya pengapuran pada pembuluh darah menuju otak. Serangan ini terjadi bila pasokan darah mengalami perubahan dan jaringan otak kekurangan darah. Jika dalam waktu 4 menit sel-sel otak kekurangan zat gizi penting, maka sel-sel tersebut akan mati.

Kini stroke tidak hanya dialami oleh orang tua, tetapi juga rentan dialami oleh mereka yang berada dalam usia produktif. Apalagi bila mereka memiliki gaya hidup yang tidak sehat.

Tanda-Tanda

Berikut ini adalah gejala stroke. Jika mengalami salah satu dari gejala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
  1. Muncul rasa lemah dan mati rasa mendadak pada bagian wajah, lengan, dan kaki atau pada bagian tubuh lainnya.
  2. Kehilangan daya penglihatan pada salah satu mata atau penglihatan menjadi gelap dan kabur.
  3. Mengalami kesulitan berbicara dan memahami pembicaraan.
  4. Mengalami sakit kepala yang hebat secara mendadak tanpa diketahui penyebab yang jelas dan bahkan menyebabkan terjatuh.
Penyebab

Penyebab terjadinya stroke adalah tersumbatnya aliran darah yang membawa oksigen dan makanan ke otak. Adapun yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah sebagai berikut.
  1. Orang tersebut mengalami hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.
  2. Faktor keturunan dan usia. Orang yang usianya lebih dari 50 tahun lebih rentan mengalami stroke daripada mereka yang lebih muda.
  3. Wanita yang telah mengalami menopause juga rentan terhadap stroke.
  4. Konsumsi makanan yang mengandung banyak kolesterol, garam, dan gula sehingga membuat metabolisme tubuh menjadi terganggu dan bisa mengakibatkan penyumbatan pada pembuluh darah.
  5. Perokok dan peminum alkohol berat.
  6. Kurang berolahraga.
  7. Stres.
Pencegahan

Menerapkan pola makan yang sehat dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah-buahan.
  1. Menghindari stres.
  2. Teratur berolahraga guna memperlancar aliran darah ke otak dan membakar kalori yang tersimpan di bawah kulit.
  3. Meninggalkan kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

TBC

TBC atau tuberculosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang bagian paru-paru. Bakteri ini merupakan salah satu jenis bakteri yang kuat, sehingga bagi orang yang terkena TBC biasanya perlu waktu yang lama untuk mengobatinya. Pengobatan yang biasanya dilakukan adalah pemberian antibiotik selama enam bulan berturut-turut tanpa henti, ditambah lagi berat badan harus naik agar bakteri tidak mudah bersarang karena sistem imun tubuh sudah menguat.

Tanda-Tanda
  1. Berkeringat dingin pada malam hari.
  2. Batuk yang tidak kunjung sembuh selama tiga minggu berturut-turut. Batuk yang dikeluarkan biasanya bercampur dahak atau darah.
  3. Berat badan menurun drastis dan sering mengeluhkan merasa lelah.
  4. Mengalami rasa nyeri pada bagian dada.
  5. Demam.
  6. Kehilangan nafsu makan.
Penyebab
  1. Tertular dari penderita TBC akibat kontak secara langsung dan menggunakan alat makan bersama dengan penderita TBC.
  2. Memiliki kebiasaan merokok.
  3. Daya tahan tubuh rendah.
  4. Tempat tinggal yang lembap atau basah, tidak bersih, dan kumuh.
Pencegahan
  1. Tinggal di rumah yang bersih, sehat, dan kering (tidak lembap).
  2. Mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi sehingga bisa meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan bakteri TBC.
  3. Memisahkan alat makan penderita TBC dengan keluarga yang sehat.
  4. Tidak merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  5. Cukup beristirahat.

Tifus

Tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Biasanya kita lebih rentan mengalami tifus jika daya tahan tubuh kita lemah dan kita mengonsumsi makanan yang tidak bersih di tempat yang tidak bersih pula.

Tanda-Tanda
  1. Demam tinggi sehingga suhu meningkat menjadi sekitar 39-40°C.
  2. Tubuh terasa lemah dan perut terasa sakit.
  3. Kepala terasa sangat sakit dan berat.
  4. Hilang selera makan dan lidah terasa pahit.
  5. Kadang-kadang disertai diare atau sembelit.
  6. Feses yang dikeluarkan berwarna hitam.
  7. Jika dilakukan tes darah, maka dapat dideteksi adanya keberadaan bakteri S. typhi.

Penyebab
  1. Penyebab tifus adalah bakteri Salmonella typhi yang ada pada makanan.
  2. Jajan di sembarang tempat.
  3. Tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan atau setelah buang air.
  4. Daya tahan tubuh lemah.

Pencegahan
  1. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air.
  2. Makan dan minum di tempat yang bersih dengan menggunakan alat makan yang bersih.
  3. Tidak jajan di sembarang tempat.
  4. Menyediakan antiseptik pembersih tangan jika kita tidak dapat mencuci tangan.
  5. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi sehingga dapat menguatkan daya tahan tubuh dari penyakit.

Vaginal Dryness

Vaginal dryness atau kekeringan yang terjadi pada vagina adalah sebuah kondisi ketika terjadi penurunan produksi cairan atau lendir pada vagina yang berf ungsi sebagai pelumas pada saat berhubungan seks. Kondisi ini menyebabkan ketidaknyamanan, rasa sakit, bahkan perdarahan pada saat berhubungan seks.

Secara normal, ketika seorang wanita merasa terangsang, otomatis vagina akan mengeluarkan cairan pelumas untuk melembapkan dan melicinkan dinding vagina dengan lendir yang keluar. Karena berbagai hal, proses ini bisa saja terganggu sehingga cairan atau lendir tersebut berkurang. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang sudah menopause atau wanita yang dipaksa berhubungan seksual padahal secara fisik dia belum siap untuk berhubungan seksual.

Tanda-Tanda
  1. Vagina terasa kering dan tidak mengeluarkan atau hanya sedikit mengeluarkan cairan pelumas meskipun dalam keadaan terangsang.
  2. Terasa sakit dan nyeri saat berhubungan seksual dengan suami.
  3. Timbul rasa gatal dan iritasi pada vagina.
Penyebab
  1. Menurunnya kadar estrogen pada wanita menopause atau pascamenopause.
  2. Konsumsi obat-obatan tertentu yang bisa memengaruhi kadar hormon, terutama hormon kewanitaan.
  3. Mengalami sindrom Sjogren.
  4. Terlalu sering membilas vagina dengan cairan tertentu atau sabun khusus wanita.
  5. Efek samping dari terapi kanker ovarium, meliputi radiasi, kemoterapi, dan terapi hormon.
  6. Dalam kondisi pasca melahirkan.
Pencegahan

Jika penyebab vaginal dryness adalah karena menopause maka hal tersebut tidak dapat dicegah. Namun, berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi kekeringan vagina.
  1. Menggunakan pelumas dan pelembab khusus. Jika vagina yang kering menyebabkan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual, sebaiknya mencoba untuk menggunakan lubrikan (berupa jelly) atau pelembab vagina yang dijual bebas di apotek. Lubrikan dapat melubrikasi vagina selama beberapa jam, sedangkan pelembab vagina dapat bertahan lebih lama (sampai 3 hari).
  2. Sebelum melakukan hubungan seksual, hendaknya melakukan pemanasan lebih dulu. Pemanasan yang cukup akan membantu vagina mendapat lubrikasi dari kelenjar vagina. Untuk itu, komunikasi sebelum melakukan hubungan intim dengan pasangan sangat penting. Selain itu, hubungan seksual yang teratur dapat membantu lubrikasi vagina lebih baik.
  3. Jika vagina kering disebabkan oleh kurangnya kadar estrogen dan cara-cara di atas tidak dapat membantu, mungkin dibutuhkan terapi estrogen vagina. Terapi estrogen vagina dapat berupa penggunaan krim estrogen vagina, cincin estrogen vagina, atau tablet estrogen vagina.

Vaginitis dan Vulvitis (Radang Vagina dan Vulva)

Vaginitis merupakan peradangan yang terjadi pada lapisan vagina, sedangkan vulvitis adalah peradangan pada vulva atau organ kelamin wanita. Penyakit ini dapat terjadi sendiri-sendiri dan dapat juga terjadi secara bersamaan. Jika terjadi secara bersamaan, maka penyakit ini diberi nama dengan vulvovaginitis.

Tanda-Tanda
  1. Keluarnya cairan abnormal dari vagina dalam jumlah yang banyak, mengeluarkan bau yang menyengat, serta disertai adanya rasa gatal dan nyeri pada vagina.
  2. Cairan yang keluar teksturnya lebih kental dari biasanya dan bisa saja berwarna kuning kehijauan atau kemerahan.
  3. Infeksi vagina yang disebabkan oleh bakteri cenderung menyebabkan keluarnya cairan berwarna putih, abu-abu, keruh, dan berbau amis. Bau tersebut akan semakin menyengat seusai berhubungan seksual atau ketika mencuci vagina dengan sabun. Hal tersebut disebabkan oleh penurunan keasaman vagina sehingga bakteri lebih mudah tumbuh di sana.
  4. Vulva terasa gatal dan mengalami iritasi. Pada infeksi jamuryang parah, vulva dan vagina terasa amat gatal dan seperti terbakar. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan seperti keju cair.
  5. Infeksi yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan, atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Keluarnya cairan tersebut juga disertai denga serangan rasa gatal yang sangat hebat.
  6. Jika cairan yang keluar dari vagina encer dan mengandung darah, hal tersebut mungkin disebabkan oleh adanya kankervagina, serviks (leher rahim), atau endometrium. Adanya polip pada serviks juga bisa menyebabkan terjadinya perdarahan pada vagina setelah melakukan hubungan seksual.
  7. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bisa disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia (Human Papilloma Virus/HPV) maupun karsinoma in situ (kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain).
  8. Adanya luka terbuka pada bagian vulva. Luka yang menimbulkan rasa nyeri bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses, sedangkan jika luka tersebut tidak menimbulkan nyeri maka bisa disebabkan oleh kanker atau sifilis.

Penyebab
  1. Adanya infeksi bakteri, jamur, protozoa, atau virus.
  2. Menggunakan spermisida, pelumas vagina, kondom, diafragma, penutup serviks, dan spons secara rutin.
  3. Berlebihan dalam menggunakan pembilas vagina, sabun cuci, atau adanya reaksi antara sisa deterjen dalam pakaian dalam dengan cairan yang dikeluarkan oleh vagina.
  4. Menggunakan pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori, dan tidak menyerap keringat.
  5. Adanya tumor atau jaringan abnormal lainnya.
  6. Adanya perubahan hormonal.
  7. Adanya kutu kemaluan (Pedikulosis pubis) yang bisa menyebabkan gatal-gatal pada bagian vulva.
Pencegahan
  1. Selalu menjaga kebersihan diri dan wilayah genital.
  2. Menggunakan pakaian dalam yang bersih dan kering.
  3. Tidak berganti-ganti pasangan atau setia pada pasangan hidup.
  4. Mengonsumsi makanan yang bergizi dan menerapkan pola hidup yang sehat.
  5. Memperkuat daya tahan tubuh.
  6. Menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya vaginitis dan vulvitis.

Varises

Varises merupakan pembuluh darah balik yang mengalami pelebaran. Kita bisa melihat varises di bawah kulit kita. Bentuknya biasanya memanjang dan menonjol, menyerupai bentuk kabel yang agak panjang. Pembuluh darah tersebut berwarna biru gelap bahkan cenderung ungu karena kadar oksigennya sedikit.

Varises tidak hanya timbul pada kaki (betis), tetapi bisa juga timbul pada vulva (bibir vagina), testis, anus (pada anus bisa menyebabkan terjadinya ambeien), dan pada daerah kerongkongan. Pada dasarnya varises tidak berbahaya, tetapi varises dapat mengganggu penampilan, terutama bagi mereka yang menyukai memakai rok atau celana pendek.

Tanda-Tanda
  1. Terlihatnya pembuluh darah yang berwarna biru gelap atau keunguan pada beberapa bagian bawah kulit di kaki, betis, dan bagian tubuh lainnya.
  2. Pada umumnya menimbulkan rasa pegal, gatal, dan nyeri pada daerah yang terkena varises.
  3. Terjadi pembengkakan dan kekejangan otot serta rasa lelah di tungkai belakang lutut.

Penyebab
  1. Varises merupakan salah satu jenis penyakit yang diturunkan karena berhubungan dengan kecenderungan lemahnya katup di pembuluh vena.
  2. Wanita dua kali beresiko mengalami varises daripada pria. Perubahan hormonal terutama hormon estrogen dan progesteron berpengaruh pada timbulnya urat-urat halus tersebut. Karena itu, wanita yang sedang hamil, mengalami sindrom pramestruasi, menopause, sedang mengonsumsi pil KB, atau melakukan terapi sulih hormon berisiko lebih tinggi untuk mengalami varises.
  3. Pekerjaan yang menuntut kita untuk berdiri dan selalu menggunakan high heels atau sepatu berhak tinggi berisiko lebih tinggi terkena varises karena pembuluh darah vena akan mendapat beban lebih lama sehingga muncullah varises.
  4. Jika kita kelebihan berat badan, hal itu akan berpengaruh pada tubuh berupa tekanan berlebih pada vena sehingga fungsinya menurun. Inilah sebabnya mengapa orang yang gemuk cenderung mudah terserang varises.
  5. Hilangnya elastisitas vena akibat dimakan usia. Penuaan mengakibatkan vena kehilangan elastisitasnya sehingga mudah meregang dan melebar. Mereka yang masih berusia muda pun sebenarnya memiliki kemungkinan untukmengalami varises. Apalagi jika ia memiliki faktor-faktor risiko yang bisa menyebabkan varises dan menerapkan pola hidup yang tidak sehat.

Pencegahan

  1. Menjaga pola makan agar berat badan tidak melebihi batas normal.
  2. Rajin berolahraga untuk memperlancar peredaran darah.
  3. Memakai stocking khusus untuk varises jika memang berisiko tinggi untuk mengalami varises. Stocking ini bisa membantu memperlancar peredaran darah sehingga darah tidak mengumpul atau menggumpal pada satu bagian tubuh saja.
  4. Setelah beraktivitas atau berdiri dalam jangka waktu yang lama, baik menggunakan high heels atau tidak, sebaiknya segera berbaring di atas tempat tidur lalu mengangkat lurus kedua kaki dan tempelkan ke tembok hingga tubuh membentuk huruf L Cara lainnya adalah dengan menumpuk 3-4 buah bantal dan meletakkan kedua kaki di atas bantal tersebut sambil berbaring. Tahan selama beberapa menit karena posisi ini dapat memperlancar aliran darah.

Vertigo

Vertigo bisa juga disebut sebagai pusing tujuh keliling karena ketika mengalami vertigo akan mengalami adanya sensasi gerak meskipun sebenarnya tidak terjadi. Sensasi ini kemungkinan disebabkan oleh kelainan atau gangguan yang mengganggu fungsi keseimbangan. Gangguan ini dapat terjadi di telinga dalam atau pada otak.

Tanda-Tanda
  1. Kepala atau keadaan sekeliling terasa seolah bergerak atau berputar.
  2. Terkadang disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan sehingga harus berpegangan agar tidak kehilangan keseimbangan.
  3. Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hingga hitungan hari.
  4. Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali.

Penyebab
  1. Gangguan fungsi keseimbangan pada otak, telinga, dan mata.
  2. Gangguan psikologis.
  3. Pemakaian obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol, dan lain-lain.
  4. Mabuk darat atau mabuk laut.
  5. Multiple sclerosis (MS).
  6. Kemungkinan adanya tumor otak atau tumor yang menekan saraf vestibularis

Pencegahan
  1. Menghindari penyebab terjadinya vertigo.
  2. Mengonsumsi makanan yang bergizi dan sehat.
  3. Mengaplikasikan gaya hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan beradaptasi dengan stres harian yang kita alami.