Tuesday, February 2, 2010

Depresi Pasca Melahirkan

Depresi pasca melahirkan (postpartum depression) bukanlah sesuatu hal yang sepele. Selain sang ibu, depresi ini juga ternyata bisa membahayakan sang buah hati. Kemunculan depresi ini sebenarnya tidak dapat diperkirakan sehingga bisa terjadi kapan saja, bisa langsung terjadi atau beberapa waktu pasca melahirkan.

Tanda-Tanda
  1. Cemas tanpa sebab.
  2. Tidak mau mengasuh anak atau tidak mau menyerahkan anaknya kepada orang lain.
  3. Sensitif dan mudah tersinggung.
  4. Menjadi amat pendiam dan pemurung.

Penyebab
  1. Kadar tembaga dalam darah lebih tinggi daripada wanita melahirkan pada umumnya.
  2. Memiliki riwayat pribadi atau ada anggota keluarga yang pernah mengalami depresi.
  3. Pernah mengalami depresi pasca melahirkan pada kelahiran sebelumnya.
  4. Mengalami sakit yang parah ketika menstruasi.
  5. Ketika mengonsumsi pil kontrasepsi, ada perubahan mood yang negatif pada respons tubuh dan mental.
  6. Merasa amat terisolasi.
  7. Tidak mendapatkan dukungan dari pasangan.
  8. Pernah memiliki riwayat trauma emosional.
  9. Kekhawatiran terhadap perubahan bentuk tubuh yang membuat tubuhnya mungkin tidak seindah ketika sebelum hamil.

Pencegahan

Berikut ini adalah pencegahan yang bisa kita lakukan agar depresi pasca melahirkan tidak terjadi.
  1. Menetapkan perjanjian waktu antara suami dan istri untuk menjaga bayi secara rutin. Hal ini dilakukan agar keduanya sama-sama terlibat dalam pengasuhan bayi dan juga memastikan keduanya mendapatkan cukup istirahat.
  2. Memastikan ibu dalam keadaan sehat.
  3. Menjaga asupan makan dan menyediakan makanan yang sehat untuk dikonsumsi sang ibu.
  4. Berolahraga jika memungkinkan. Berolahraga ini juga bisa digantikan dengan aktivitas fisik lainnya, seperti menggendong bayi sambil berjalan-jalan di taman atau di sekeliling rumah.
  5. Keluarga harus mendukung ibu dalam banyak hal, ketika sang ibu membutuhkan bantuan, ada orang yang siap siaga untuk membantu, sehingga ibu tidak merasa sendirian.
  6. Banyak mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 seperti brokoli, pisang, dan buah-buahan lainnya.

Diabetes Gestasional

Diabetes gestasional merupakan suatu keadaan gula darah menjadi abnormal selama kehamilan, namun keadaan ini akan kembali normal setelah bayi lahir. Tanpa penanganan yang baik, diabetes gestasional ini rawan menyebabkan berbagai kemungkinan yang dapat membahayakan ibu dan bayinya.

Mengingat akan bahaya yang mungkin dapat ditimbulkan oleh diabetes gestasional ini, maka Asosiasi Diabetes Amerika menyarankan para wanita untuk memeriksakan status diabetes pada umur kehamilan 24-28 minggu.

Diabetes gestasional berkaitan dengan anomall congenital, sehingga dapat membahayakan ibu dan janinnya. Contohnya adalah kelahiran prematur, makrosomia, hipertensi, berisiko mengalami operasi caesar ketika melahirkan, komplikasi kehamilan, dan melahirkan giant baby atau bayi yang dilahirkan terlalu besar.


Diabetes gestasional juga dapat memengaruhi bayi. Bisa jadi bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami diabetes gestasional akan mengalami hipogiikemia neonatal (kandungan glukosa darah yang menurun secara abnormal), hipokalemia neonatal (kadar kalium yang rendah dalam darah), hiperbilirubinemia neonatal (kadar bilirubin yang tinggi dalam darah), dan polisitemia (peningkatan jumlah sel darah merah).

Tanda-Tanda
  1. Kadar gula darahnya meningkat ketika hamil.
  2. Setelah melahirkan biasanya bayi yang dilahirkan berukuran besar atau giant baby.
Penyebab
  1. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang manis-manis atau berkalori tinggi.
  2. Ibu mengalami kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas.
  3. Dalam riwayat kesehatan, pernah mengalami diabetes gestasional.
  4. Mengalami glikosuria.
  5. Memiliki riwayat keluarga yang mengalami diabetes.
Pencegahan
  1. Mengurangi konsumsi makanan yang manis-manis.
  2. Menjaga jumlah asupan makanan terutama ketika trimester ketiga kehamilan agar berat badan tidak terus bertambah. Obesitas membuat ibu berisiko tinggi mengalami diabetes gestasional. Akan tetapi, jangan sampai kekurangan makanan.
  3. Berolahraga dan melakukan aktivitas fisik yang ringan sampai sedang, sehingga tubuh tetap bugar, kalori yang tidak perlu dapat terbakar selama melakukan aktivitas fisik tersebut.

Dispepsia

Dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut.

Penyebab 
  1. Menelan udara (aerofagi)
  2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
  3. Iritasi lambung (gastritis)
  4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
  5. Kanker lambung
  6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
  7. Intoleransi laktosa  (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
  8. Kelainan gerakan usus
  9. Kecemasan atau depresi



Tanda-Tanda

Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyeri. Tanda-tanda lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).


Diagnosa

Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respons terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani beberapa pemeriksaan, yaitu:
  • Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja.
  • Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan.
  • Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori.
  • Kadang dilakukan pemeriksaan lain, seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respons kerongkongan terhadap asam.

Pengobatan
  1. Bila tidak ditemukan penyebabnya, dokter akan mengobati gejala-gejalanya. Antasid atau penghambat H2 seperti cimetidine, ranitidine atau famotidine dapat dicoba untuk jangka waktu singkat.
  2. Bila orang tersebut terinfeksi Helicobacter pylori di lapisan lambungnya, maka biasanya diberikan bismuth subsalisilate dan antibiotik seperti amoxicillin atau metronidazole.

Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual pada wanita itu terdiri dari berbagai macam, salah satunya yaitu frigiditas. Frigiditas adalah suatu keadaan seorang wanita tidak peka terhadap rangsangan seksual pada tubuhnya.

Jadi, meskipun ia sedang melakukan hubungan seksual, tapi ia tidak dapat merasakan kenikmatannya atau orgasme. Bagi wanita frigid, hubungan seksual tidak lebih dari sekadar menunaikan kewajiban terhadap suami.

Ini tentu saja bisa dianggap sebagai suatu siksaan karena kebutuhan biologis seorang wanita frigid tidak dapat terpuaskan. Selain itu, perasaan bersalah terhadap suaminya juga kerap muncul karena ia tidak dapat merespons rangsangan seksual yang diberikan oleh suaminya.



Tanda-Tanda
  1. Tidak peka terhadap rangsang erotis pada tubuhnya.
  2. Melaksanakan hubungan seksual tanpa antusiasme dan merasa hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai istri.
  3. Jarang mengalami orgasme ketika berhubungan seksual.
  4. Tidak terlihat secara penampakan luar.
  5. Tidak menikmati hubungan seksual secara antusias bahkan sering terlihat merasa kesakitan ketika melakukan hal tersebut.

Penyebab
  1. Gangguan kelainan bawaan pada vagina, misalnya lubang terlalu sempit atau liang vagina pendek.
  2. Ada kelainan pada otot dan gangguan jaringan saraf, pasca operasi panggul, infeksi dalam liang vagina, dan tumor pada alat kelamin. Kelainan-kelainan ini dapat menimbulkan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual.
  3. Stres sehingga mengakibatkan emosi menjadi labil.
  4. Timbul rasa jenuh saat melakukan hubungan seksual, misalnya karena posisi bercinta yang tidak bervariasi.
  5. Menurunnya produksi hormon estrogen terutama pada wanita usia menopause. Hal ini bisa mengakibatkan vagina menjadi kering, iritasi, atau gatal, sehingga ada rasa kurang nyaman saat melakukan hubungan seksual.

Pencegahan
  1. Menjaga agar gairah untuk bercinta selalu ada.
  2. Tidak melakukan hubungan seksual terlalu sering agar tidak menimbulkan kejenuhan.
  3. Melatih kesensitifan organ-organ seksual agar selalu peka terhadap rangsangan.
  4. Selalu menjaga komunikasi dengan pasangan untuk mengetahui apa keinginan masing-masing.
  5. Menjaga kebersihan tubuh dan ruangan terutama kamar demi kenyamanan saat berhubungan seksual.
  6. Menambah variasi terhadap gaya saat berhubungan seksual untuk mengurangi kejenuhan.

Dismenorea

Dismenorea merupakan rasa sakit akibat menstruasi yang sangat menyiksa karena nyerinya luar biasa menyakitkan. Jika terjadi pada wanita bekerja, tentu saja hal tersebut akan sangat mengganggu aktivitas dan produktivitasnya. Dismenorea terbagi menjadi dua, yaitu dismenorea primer dan dismenorea sekunder.

Dismenorea primer terjadi dua hari sebelum menstruasi tiba dan biasanya hilang setelah memasuki masa menstruasi. Sekitar 10% penderita dismenorea primertidakdapatmengikuti kegiatan sehari-hari. Dismenorea sekunder hampir mirip dengan dismenorea primer, tetapi akibatnya lebih parah dan biasanya lebih lama daripada dismenorea primer.

Tanda-Tanda
  1. Kram perut bagian bawah yang menjalar ke punggung atau kaki.
  2. Biasanya disertai gejala gastrointestinal dan gejala neurologis, seperti emosi yang labil.



Penyebab
  1. Adanya hiperaktivitas dari uterus, endotelin, prostaglandin, vasopressin, dan kerusakan saraf perifer.
  2. Memiliki penyakit radang panggul, pemasangan IUD, tumor pada tuba fallopii, usus, atau vesika urinaria, polip uteri, dan inflammatory bowel desease.
  3. Bekas luka karena pernah melakukan operasi pada organ reproduksi sebelumnya.

Pencegahan
  1. Dismenorea mungkin sulit untuk dicegah, tetapi untuk gejala yang sangat parah dapat dikurangi dengan cara meminum obat pereda rasa sakit.
  2. Beristirahat, menarik napas panjang, menenangkan diri, berolahraga ringan, mengonsumsi sayur, dan buah-buahan.
  3. Mengompres bagian yang terasa sakit dengan air panas.
  4. Mengonsumsi jamu kunyit asem, terutama menjelang haid.
  5. Adapun obat herbal untuk mengurangi gejala dismenorea menurut Hembing dalam buku yang ditulisnya adalah 30 gram temu lawak (diiris-iris) +15 gram bunga mawar merah +15 gram daun dewa +10 gram umbi teki kering, semua dicuci bersih dan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.

Edema

70% tubuh manusia terdiri atas air yang sangat penting untuk reaksi metabolisme dalam tubuh. Namun, sayangnya seringkali tubuh kita mengalami kelebihan cairan tubuh dan tubuh tidak bisa mengeluarkannya.

Munculnya beberapa penyakit edema atau kelebihan cairan dalam tubuh merupakan salah satu gejalanya. Beberapa contoh penyakit di antaranya adalah gagal jantung, gagal ginjal, dan penyakit liver.

Kelebihan cairan atau edema dapat terjadi di berbagai tempat dalam tubuh kita. Edema biasa juga dikenal sebagai pembengkakan yang biasanya terjadi di kaki yang juga disebut sebagai edema periferal, jika terjadi di paru-paru maka akan disebut sebagai edema pulmoner, dan jika terjadi di perut disebut asdtes.


Jika kita mengalami edema biasanya kita akan mudah merasa lelah setelah melakukan aktivitas fisik harian atau ketika berjalan dalam jarak yang dekat. Jika edema ini belum parah maka masih dapat diobati dengan diet dan perubahan gaya hidup.

Tanda-Tanda
  1. Meningkatnya ukuran perut (ascites).
  2. Napas pendek-pendek atau sulit bernapas (pulmonary edema).
  3. Volume air kencing yang dikeluarkan sangat sedikit meskipun minum air dalam takaran normal harian.
  4. Baju, celana, rok, atau aksesoris yang digunakan terasa sempit.
  5. Pada tahapan yang parah, tanda-tanda edema itu dapat berupa kesulitan bernapas, napas pendek-pendek ketika berbaring, batuk, dan tangan serta kaki jika disentuh atau dipegang terasa dingin.

Penyebab

  1. Edema terjadi jika kita duduk atau berdiri terlalu lama di satu tempat. Salah satu penyebabnya adalah gravitasi yang menarik cairan tubuh kita ke bagian kaki.
  2. Kehamilan.
  3. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak natrium atau garam.
  4. Bisa juga merupakan tanda dari penyakit ginjal atau liver.

Pencegahan
  1. Mengurangi konsumsi makanan yang tinggi kadar natriumnya.
  2. Tidak berdiri atau duduk terlalu lama.

Eksim

Eksim atau disebut juga dengan dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit yang jika dilihat tampak seperti kulit yang terkena radang atau mengalami iritasi. Peradangan kulit ini bisa terjadi di mana saja, tetapi yang paling sering terkena adalah tangan dan kaki.

Jenis eksim yang paling sering dijumpai adalah eksim atopik. Gejala eksim akan mulai muncul pada masa anak-anak terutama saat mereka berumur di atas 2 tahun. Pada beberapa kasus, eksim akan menghilang dengan bertambahnya usia, namun tidak sedikit pula yang akan menderita seumur hidup.

Tanda-Tanda
  1. Gatal dan ruam kemerahan pada kulit disertai rasa panas pada kulit.
  2. Gejala kemerahan biasanya akan muncul pada wajah, lutut, tangan, dan kaki, tetapi bisa juga muncul pada bagian tubuh lainnya.
  3. Daerah yang terkena akan terasa sangat kering, menebal, atau keropeng. Pada orang yang berkulit putih, daerah ini pada awalnya berwarna merah muda lalu berubah menjadi cokelat, sedangkan pada orang dengan kulit lebih gelap, daerah kulit yang terkena eksim akan terlihat lebih terang atau sebaliknya malah terlihat lebih gelap.
Penyebab

Penyebab dari eksim sebenarnya belum diketahui dengan pasti, tetapi beberapa faktor berikut ini diduga kuat menjadi penyebab terjadinya eksim.
  1. Kerja dari daya tahan tubuh yang berlebihan. Ini menyebabkan tubuh melakukan reaksi yang beriebihan terhadap bakteri atau iritan yang sebenarnya tidak berbahaya pada kulit.
  2. Alergi terhadap suatu bahan, misalnya sabun cuci, deterjen, makanan laut, dan sebagainya.
  3. Infeksi saluran napas bagian atas atau flu.
  4. Stres yang dialami penderita.
Pencegahan

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah munculnya eksim.
  1. Selalu menjaga kelembapan kulit.
  2. Menghindari perubahan suhu dan kelembapan yang mendadak.
  3. Menghindari berkeringat terlalu banyak atau kepanasan.
  4. Menghindari penggunaan pakaian yang dapat menggores atau bergesekan dengan kulit dan menyebabkan rasa gatal, serta tidak menyerap keringat, seperti wol.
  5. Menghindari sabun, deterjen, atau bahan lain yang terlalu keras.
  6. Menghindari faktor lingkungan lain yang dapat menimbulkan alergi, seperti serbuk bunga, debu, bulu binatang, dan sebagainya.
  7. Berhati-hati dalam memilih makanan yang bisa menyebabkan alergi.